Satu Saja

Saya sering kagum dengan kebanyakan orang jepang yang menyikapi hidup dengan sederhana, memilih 1 bidang pekerjaan lalu melakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati dalam jangka waktu lama atau seumur hidupnya. Itu yang ditampakkan dari banyak film, novel, film dokumenter, artikel dan banyak sumber lainnya mengenai kehidupan jepang yang kutelaah.

Menurut hemat saya hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung pragmatis dalam memandang suatu pekerjaan, dalam artian asal dapat cuan banyak dan mapan, pindah-pindah bidang pekerjaan sudah tak jadi soal. Ketika perusahaan A tidak memberikan harapan gaji yang sesuai maka pindah ke perusahaan B yang mau memberikan harapan itu, lalu ketika kebutuhan hidup bertambah pindahlah ke perusahaan C agar dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika pendapatan masih saja belum cukup maka mencari objekan atau kerjaan sampingan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Itu masih sekedar cuan dan mapan, belum lagi faktor kebosanan, tingkat konsistensi yang rendah, ketidaknyamanan dan rupa lainnya. Tentu ini hal tersebut dapat membuat seseorang berpindah haluan bidang.

Apakah pindah-pindah bidang pekerjaan itu tidaklah baik?. Tentu tergantung dari sudut mana dilihatnya. Masing-masing dari kita tak bisa menyalahkan satu sama lain, itu adalah hak berpendapat. Poinnya saya hanya ingin bilang bahwa kondisi masyarakat di Indonesia dewasa ini yang cenderung seperti itu.

=======

Untuk melakukan gerakan akrobatik super susah (seperti dipertunjukan sirkus), seseorang harus terus berlatih berkali-kali hingga terbiasa memainkan gerakan demi gerakan akrobatik. Satu persatu.

Untuk menjadi seorang Pianist atau Violinist profesional, seseorang harus fokus belajar memainkan bertahun-tahun untuk mencapai level itu, dan seringnya malah dimulai ketika masih kecil. Jika tidak permainannya hanya biasa-biasa saja.

Untuk meneliti sebuah planet baru secara lebih dalam seorang peneliti bisa menghabiskan seluruh waktu hidupnya hanya untuk itu, itu pun belum jaminan penelitiannya tergarap secara dalam.

Saya pernah menonton film dokumenter apik tentang seorang Master of Sushi di Jepang. Bercerita tentang perjalanan Jiro seorang pemilik kedai Sushi yang tak pernah pernah lelah mengimprove kemampuannya dalam bidang per-sushi-an dari ia muda hingga saat ini, ketika umur sudah dikatakan layak untuk disebut pensiunan. Film ini memberikan kesan teramat dalam mengenai kebertahanan hidup jiro yang tidak pernah menengok kanan kiri untuk berganti profesi selama hidupnya.

Didalam kedai tersebut Jiro dibantu oleh anak dan pekerjanya. Ada hal yang menarik dari proses pembuatan makanan sushi dalam kedai tersebut yaitu tidak menyajikan sushi yang tidak sesuai standart Jiro. Sedangkan standart Jiro dalam menyajikan sushi amat tinggi dari setiap item yang disajikan. Seperti menanak nasi contohnya, hal tersebut memang gampang seperti yang biasa kita lakukan, namun tidak dikedai sushi ini. Seorang pekerja perlu menghabiskan rata-rata 1-2 tahun untuk hanya sekedar menanak nasi secara baik sesuai standart Jiro. Selain menanak nasi hal lainnya seperti menggoreng, mengasapi, mengiris bahan-bahan dan merebus juga membutuhkan waktu yang lama untuk belajar membiasakan.

Dalam Film dokumenter tersebut dipaparkan untuk menguasai 1 kemampuan “memasak” dari setiap item tersebut dibutuhkan konsistensi tingkat tinggi untuk melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang hingga menjadi otomatis ketika membuat item tersebut.

Bertahun-tahun hanya untuk menguasai kemampuan 1-2 item saja, seperti menanak nasi dan sebagainya. Hanya orang-orang dengan tingkat kegigihan dan kesabaran tinggi yang mau melakukannya.

Tak khayal kedai sushi yang dikelolanya mendapat prediket sushi terenak didunia (kalau tidak salah) dan jika ingin makan dikedai tersebut perlu mengantri alias waiting list dulu. Edan pisan euy.

Ada satu kalimat yang masih kuingat (esensinya) dari sang master difilm tersebut: pilih 1 saja dan lakukan itu berulang-ulang kali. Ia bukan hanya berucap namun benar-benar melakukan falsafah kata-kata tersebut dari muda hingga sudah sepuh ia hanya membuat sushi saja, tidak ada yang lain. Dan anehnya sampai sekarang ia masih menjadi salah satu penyaji bersama pekerja-pekerjanya dan hampir setiap hari ia ke kedai. Hidupnya didedikasikan untuk Sushi.

Dulu aku “nemu” film ini di youtube, namun sekarang ketika kucari lagi sudah tidak ada. Kalau ingin nonton sekarang bisa ke Netflix yah. Nah berikut nih trailernya. Tonton deh:

==================

Jiro adalah salah satu dari sekian banyak orang jepang yang kukagumi. Mencari orang yang berdedikasi tinggi macam Jiro tidaklah mudah. Apalagi dijaman sekarang yang penuh dengan kesempatan-kesempatan yang membuat diri lupa diri dengan apa itu dedikasi.

Semoga menginspirasi. Terima kasih telah membaca đŸ™‚

–Adisriyadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s