SIM (Surat Ijin Menulis)

Apa ada yang salah mulai menulis tanpa memikirkan tujuan ingin menulis apa?. Bagiku tidak ada yang salah, menulis yah menulis. Punya tujuan menulis atau tidaknya urusan lain. Menulis adalah aktivitas sedangkan tujuan adalah motifnya. Seperti halnya bernafas, makan atau minum kita benar-benar tak pernah memikirkan tujuannya untuk apa. Begitu juga saat ngerumpi bersama teman yang enggak pernah inget waktu, apalagi menulis itu sendiri.

Seringnya aku malah mendapatkan ide tentang apa yang ingin ditulis ketika sedang menulis itu sendiri. Menulis acak adul di awal paragraf lalu mengerucut menjadi tulisan yang mempunyai struktur yang enak dibaca. Tentu dalam versiku, versimu siapa yang tahu?.

Namun benar. Seseorang yang ingin memulai menulis (seperti pun aku) menurutku sering terjebak dalam drama pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang ingin tulis?, apakah perlu riset tentang apa yang ingin ditulis?, apakah bagus menulis tentang ini?, apakah tulisanku akan sedetail tulisan blogger-blogger yang kubaca setelah selesai?.

Bukannya langsung menulis seringnya malah berubah arah melakukan aktivitas lain, seperti browsing youtube; membaca tulisan blogger lain; atau tutup laptop sekalian.

Daripada meladeni pertanyaan yang bikin down diri sendiri dan akhirnya malah gak jadi menulis. Kenapa harus menetapkan tujuan diawal?. Apakah ada surat ijin menulis ketika hendak menulis? dan salah satu syaratnya adalah punya tujuan menulis?.

Ada nggak?.

======

Kalau belum bisa menulis dengan tujuan yah jangan dipaksakan. Pelan-pelan saja. Kata Tere Liye, menulis itu seperti belajar memasak. Awalnya hasil masakan sering sekali kepedesan, keaseman, keasinan atau malah rasanya jadi hambar. Namun seterusnya juga bakal mengerti standart membuat masakan yang pas dan akhirnya ingin masak apa jadi makin mudah.

Begitupun menulis, awalnya tulisan bisa melenceng kebanyak topik; bisa juga enggak nyambung dengan judul yang dibuat; bisa juga pesan yang disampaikan “kentang”; bisa juga niatnya ingin menulis apa malah jadinya apa. Namun lambat laun juga mengerti standart menulis yang pas dan akhirnya ingin nulis apa jadi makin mudah. Urusan bagus atau tidaknya itu hanya penilaian, urusan kita sebenarnya adalah: menulis.

Udah nulis aja dulu. Toh gak ada SIM (Surat IJin Menulis).

#selfreminder banget

Terima kasih telah membaca yah 🙂

–Adisriyadi

3 thoughts on “SIM (Surat Ijin Menulis)

  1. Bang Ical

    Di dunia akademik, sebetulnya, SIM itu ada, lho. Namanya “ijazah Ph.D”. Sebetulnya orang yang meraih gelar doktor adalah orang yang baru dikasih SIM dan kunci mobil. Bukannya sudah sampai, tapi perjalanan barulah dimulai, untuk berkelana di antah-berantah ilmu pengetahuan 🙂

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s