Memberi Kabar

Teman

“Gimana kabar ibu kamu bang?” tanya nana dibalik telepon watsap

Aku tak tahu harus menjawab apa. Jujur aku jarang menelepon ibu untuk sekedar menanyakan kabar. Seringnya malah ibu yang menelepon menanyakan kabar. Itupun kalau aku sempat mengangkat telepon dari beliau. Sesibuk apa sih ditanah rantau sampai-sampai gak bisa angkat telepon?. Enggak sibuk-sibuk amat sih, namun sering ibu menelepon di jam-jam yang tak terduga, kadang pas aku lagi kerja; kadang pas aku lagi tidur; kadang juga pas handphone aku tinggal dikos. Jadi yah gitu kadang gak kuangkat.

“baaaaik na” jawabku singkat

——-

“Btw, udah nelpon ibu kamu bang? ” tanya nana dibalik telepon dikesempatan lainnya. Tentu via watsap.

Sial. Kenapa sih nanyain ibu muluk, jadi bingung buat jawabnya. Kalo aku jawab terus terang. Aku malah tampak seseorang yang tak peduli dengan keluarga. Sebenarnya aku tentu peduli dan sayang dengan ibu serta setiap anggota keluarga dirumah namun tentu dalam versiku. Aku hanya tidak terlalu suka untuk telepon terlalu sering, walaupun itu keluarga sekalipun. Aku lebih suka bertemu, mengobrol langsung dan bertatap muka. Itu kenapa semua cutiku kugunakan untuk balik kampung. Cuti di acc – beli tiket kereta – lalu pulang.

“eee, udah kok. hari minggu kemarin” jawabku ragu dan pasti bohong. Mungkin dia tahu aku bohong?.

——–

“Udah 1 bulanan nih WFH. Kamu dikos gak rindu rumah. Terakhir kali nelepon ibu kapan?” tanya nana via telepon dikesempatan berikutnya lagi. Tahukan teleponnya pake apa?. Iyah pake watsap.

Kali ini tak kujawab dan mengalihkan pembicaraan ke lain soal. Buat apa?.

==============================

Ibu

“Kabarmu piye?. Uwis mangan durung”? tanya ibu dibalik telepon yang artinya kabar kamu gimana?. Udah makan belum?.

Selalu pertanyaan ibu soal kabar kamu dan tentang apakah aku sudah makan atau belum. Tentu mau ditanya atau tidak, aku akan tetap makan. Karena memang sudah kebutuhan untuk hidup. Buat apa coba?.

“iya uwis makan buk” jawabku pendek yang artinya iya sudah makan bu.

——-

Handphone berdering tanda ada telepon. Saat itu sedang asyik-asyiknya nongkrong dan makan bersama 3 kawanku.

Hah, kenapa sih telepon diwaktu seperti ini? batinku sedikit kesal. Lalu aku ijin untuk mengangkat telepon diluar.

“halo, bu?” tanyaku membuka percakapan

Pasti ibu nanyain kabar; pasti nanyain udah makan belum?; Masih kerja atau udah dikos?; dan rentetan pertanyaan lainnya. Iya bu aku baik-baik saja batinku selalu.

“piye kabara le?. Apik?. Uwis mangan durung?” tanya ibu yang artinya gimana kabarnya? baik kan?. Udah makan belum?.

Nah kan?!

===============================

Keluarga

Hari itu cukup membosankan dan membuatku mengantuk padahal masih jam kerja. Walaupun kerja masih dalam format WFK (Work From Kos) namun aku harus tetap standby kalo ada apa-apa dan tidak boleh tidur.

Kualihkan kebosanan dan rasa kantukku dengan membuka watsap. Melihat rentetan story status. Melihat satu persatu yang sekiranya menarik. Swap-Swap-Swap lalu terhenti di story Kak Iyan, kakakku nomor 2. Di Storynya terpampang foto rumah sakit. Aku lalu bertanya, siapa yang sakit?. Kak Iyan menjawab tidak siapa-siapa kok, cuman foto. Kamu lagi kerja?. Oh kirain siapa.

Sorenya, aku membuka watsap kembali karena kebosananku lagi-lagi mencuat. Kebosanan yang cukup akut, tentu dibarengi dengan rasa kantuk yang teramat. Mulai dari membalas pesan yang masuk lalu beranjak menilik story watsap satu persatu. Kali ada yang menarik yang bisa kulihat. Swap-swap-swap, terpampang foto rumah sakit di story kak Atik, kakak pertamaku. Aku mulai curiga ada apa, siapa yang sakit yak?. Swap-swap-swap lalu terpampang kembali foto rumah sakit lagi, kali ini di story kak Adit, Kakak ketigaku. Aku bertanya ke kak Adit, siapa yang masuk rumah sakit?. Dengan cepat Kak adit membalas pesanku: Ibu masuk rumah sakit.

Saat itu juga Jantungku terasa berhenti. Mataku mendelik membacanya. Kenapa dengan ibu?, sakit apa ibu?. Saat itu pula langsung panik. Aku lalu menelepon buru-buru dan ingin tahu detailnya seperti apa.

Dari kakak kudapati ibu sudah beberapa hari muntah ketika hendak makan, maka ibu dibawa kakak-kakakku ke rumah sakit. Kata dokter penyakit lambung, entah detailnya lambung apa. Aku tidak tahu itu. Namun kakak bilang tidak usah rawat inap, cukup rawat jalan dan menebus obat. Sebelum itu ibu sempet diinfus karena memang mau tidak mau harus ada energi yang masuk ke tubuh, walaupun hanya sekedar cairan.

Mendapati kabar mendadak seperti itu jadi panik. Itu adalah salah satu bagian yang paling aku benci ketika jauh dari keluarga, namun tentu seperti pil pahit aku harus menelannya.

==============================

Aku

“Piye kabare bu?” tanyaku dalam video call yang kumulai sehari setelah ibu masuk rumah sakit.

Dengan wajah yang lemas dan suara yang diseret ibu menjawab “mmmm iyaaah uwis luwih apik le, cuman yo masih lemes ae. Kabarmu piye?. Kowe wes mangan durung?

—Adisriyadi

4 thoughts on “Memberi Kabar

  1. Suci Su

    Semoga Ibu segera sehat. 🙏

    Ibu-ibu selalu memikirkan anaknya dulu. Makan adalah salah satu kebutuhan hidup, jadi yang diingat makannya dulu. Gimana, sudah makan belum?

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s