Buang-buang waktu yang terlalu remeh

Alih alih memutuskan sesuatu terlalu sering kenapa tidak membuat suatu patokan hidup yang dapat membuat diri tak perlu berfikir banyak dan malah langsung melakukannya tanpa pikir panjang?. Sekedar memilih makanan apa yang ingin dibeli atau dibuat memang mengasyikan namun jika kadarnya sudah berurusan dengan kata “sering” kepikiran enggak sih bahwa ada banyak sekali bentuk keputusan-keputusan yang jauh lebih penting dari itu?.

Selepas bangun dari tidur untuk membeli makanan sahur tadi, aku memutuskan untuk ke warteg andalan yang selalu menjadi prioritas diriku memilih tempat makan. Namun sialnya ketika berada di lantai bawah parkir, motorku terselip pada barisan belakang motor-motor dan tentu susahnya minta ampun kalau aku harus menggesar beberapa motor yang ada di depan. Yawis lah yah, akhirnya aku memutuskan jalan kaki saja dan tidak jadi ke warteg andalan karena warteg andalan itu jaraknya sekitar 500-700 m dari kos. Menghabiskan waktu dan pasti malas kan yah jalan kaki untuk sekedar membeli makan mengisi sahur

Akhirnya memilih warteg terdekat. Disitu tersedia banyak macam lauk, dari situ aku mulai menerka-nerka lauk apa yang ingin aku makan pagi itu. Muncul 2 pilihan jenis sayur, sop atau sayur gory yang cukup menostalgiakanku dengan masakan ibu di rumah. Pikiran itu menyita waktuku sebentar hingga aku sadar bahwa aku telah terjebak pada kesia-siaan dalam memutuskan. Apakah memang sepenting itu aku memilih sayur apa yang harus dimakan?. Selepas bertanya, lalu aku memilih tanpa basa-basi, sayur sop, telor dadar dan sambal terus duduk untuk makan.

Sepertinya contoh belum terlalu kongkrit dan benar-benar menggambarkan. Tapi yah bagaimana dapat inspirasinya dari situ, tapi banyak kok kalau mau dicontohkan. Misalnya nih memilih menu makanan di Go Food/ Grab Food. Sekedar memilih makanan di 2 aplikasi itu kadang bikin perang batin sendiri mau ini mau itu dan barangkali waktu menjadi korban dari peperangan itu. Bisa jadi 30 menit hanya untuk memilih makanan apa yang perlu dipilih, dan sialnya bisa jadi 30 menit itu terbuang tanpa keputusan keluar dari aplikasi dan langsung beli langsung. Oh Shit.

Bukan soal memilih makanan saja, sekedar memilih jenis film di Neflix atau HBO Go di akhir pekan juga bikin penat kepala. Film apa yah yang ingin aku tonton?, sepertinya ini menarik? sepertinya itu juga?. Peperangan batin mencuat kembali ke permukaan yang bisa jadi membuat aktivitas “membuang-buang waktu” terjadi lagi.

Kata “membuang-buang waktu” bukanlah hal absolut untuk setiap banyak keputusan yang dipikirkan, namun keadaan yang bisa dijabarkan kalau dilakukan berkali-kali. Kalau sekali-kali bagiku boleh lah, namun kalau sudah menjelma jadi daily rutin itu yang jadi dangerous. Bukannya apa, tapi pasti ada pikiran di ujung paling dalam yang mengatakan “apakah sepenting itu aku perlu meluangkan waktu sebegitu banyak hanya untuk hal-hal ini?”

Barangkali malah karena hal tersebut kamu belum maju-maju dalam karir atau apapun yang di tuju. Keputusan-keputusan penting yang seharusnya diprioritaskan malah tersingkir dan menyusut hanya karena keputusan-keputusan lain yang seharusnya tidak perlu dibuat dan didahulukan.

Tidak semua hal perlu diputuskan kan?. Barangkali jalan terbaik adalah membiarkan itu jadi sebuah kepastian yang perlu diterima tanpa harus berkomentar lebih jauh.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir “sindrom” ini salah satunya adalah memastikan segala sesuatu dengan patokan. Patokan itu bisa bersifat prinsipil atau hanya aturan biasa.

Contohnya, sebagai anak kos aku selalu lebih sering makan di warteg dibandingkan masak sendiri. Ketika makan di warteg sudah ku pastikan akan minum air putih biasa dan bukannya minuman yang lain seperti minuman rasa-rasa atau teh tawar hangat yang selalu ditawarkan lebih utama di warteg-warteg chapter Jakarta. Kedua aku tak menimbang suatu makanan lebih dari 20 detik, artinya ketika melihat makanan ya sudah kalau yang tersedia itu yah aku pilih itu. Tanpa babibu, walaupun itu juga tidak selalu jadi kepastian, aku kadang juga membiarkan kepala berfikir demi menyenangkan sesekali fikiran ini. Tapi lebih utamanya menerima setiap makanan yang dipilih tanpa babibu.

Bagiku ini sepele namun krusial jika dilakukan terus menerus. Manusia tempatnya memilih pendapat dan mengaplikasikannya, bagiku ini cukup penting, kalau sekiranya pembaca beranggapan sama.

Terima kasih telah membaca 🙂

-Adis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s