Sore Jogging

Sore kemarin ketika masih dalam situasi bekerja, tiba-tiba aku kepingin jogging. Sebuah keinginan yang kokoh dan berdiri sendiri. Tidak ada campur tangan soal apakah ini dapat menyehatkan, membuat kulit kencang atau yang baik-baik bagi tubuh. Aku hanya ingin jogging. Udah itu saja. Bukan berarti kesehatan tidak penting, iya itu penting namun sore itu kesehatan nomor kesekian dari yang kesekian.

Kepada rekan se tim, aku langsung memberi tahu kalau ingin break sebentar sekitar 15 menitan untuk jogging. Situasinya bukan di kantor yah melainkan di kos atau rumah masing-masing, karena masih dalam situasi WFH. Rada enggak enak sebenarnya karena masih dalam pusaran kerja. Namun karena memang tidak ada kerjaan, yaudah lanjut aja.

Beberapa tahun silam kalau tidak salah SMP,SMA atau kuliah aku juga keranjingan untuk olahraga, tidak hanya jogging pun juga olahraga fisik yang tidak membutuhkan ruang yang luas seperti peregangan, push up, pull up, plang dan gerakan-gerakan yang lain. Berbeda dengan beberapa tahun silam itu, Joggingku sekarang dengan joggingku dulu sangat berbeda dari segi niat.

Dulu ku niatkan sepertinya untuk kesehatan, tubuh yang atletis dan biar lebih produktif dalam melakukan sesuatu. Niat tersebut bagiku lebih baik ketimbang diniatkan agar dapat dipuji banyak orang punya badan atletis saja. Saat ini niatku lebih tunggal, lebih kaku dan strict yaitu Jogging atau mungkin aktivitas olahraga lain yang aku lakuin berdasarkan niat tanggung jawab kepada diri sendiri.

Tanggung jawab kepada diri atau dalam hal ini fisik itu penting, karena tiap hari doi yang membuat kita dapat melakukan aktivitas secara baik dan doi tidak pernah “mengeluh” sedikitpun. Ini juga bisa diartikan tanggung jawab kita terhadap Tuhan yang telah memberikan kita fisik dan sebagai manusia makluk yang tidak ada apa-apanya di mata galaxy bima sakti ini, seenggaknya kita berupaya untuk bertanggung jawab.

Bentar-bentar, aku masih bingung kenapa menjadi sehat, tubuh atletis dan biar lebih produktif itu tidak lebih baik dari bertanggung jawab kepada fisik?. Toh emang kebanyakan dari kita kan (yang aku tahu nih) olahraga yah ingin sehat. Betul enggak tuh?

Kamu enggak salah, olahraga memang membuat kita jadi sehat plus bonus-bonus yang lainnya. Namun core dari segala corenya terletak dari tanggung jawab diri kita terhadap fisik yang selalu digunakan atau disalahgunakan. Jika urusannya sudah tanggung jawab mau tidak mau itu sudah jadi “kewajiban” dan bukannya pilihan.

Satu lagi yang perlu diingat entah niatnya apa kalau olahraga memang bisa bikin badan sehat + bonus lainnya, pun kalau niat seseorang kurang baik seperti jogging di GBK agar dapat kenalan cewe baru, sekedar agar bisa dipuji punya badan atletis atau untuk mengisi ruang IG ala ala. Semuanya tetap sama-sama bikin sehat.

Tapi walaupun hasilnya sama atau cenderung sama, niat akan menjadi pembeda dari aktivitas yang dilakukan.

Contoh sederhana:

Karena niat seseorang ingin agar dapat kenalan di GBK, ia akhirnya jogging disana sebagai upaya untuk dapat kenalan, namun ketika di GBK tidak ada yang bisa diajak kenalan, joggingnya selesai dan tarik selimut lagi.

Pun juga niat ingin agar sehat dan lainnya itu. Sebenarnya cukup bagus namun masih dapat goyah dalam niatan itu sendiri. Niat ini menurutku masih seperti opsi atau pilihan, seperti dalam Islam hukumnya Sunnah, mendapat pahala kalau dilakukan pun kalau tidak juga tak mengapa

Nah sedangkan niatan yang lebih dari itu (tentu dalam versiku) adalah sikap bertanggung jawab dengan diri sendiri (fisik). Ini seperti keimanan yang kuat yang mau tidak mau dilakukan atas dasar tanggung jawab kita. Hukumnya seperti wajib, Mendapatkan pahala kalau dilakukan dan jika tidak sudah pasti berdosa. Kalau udah seperti itu mau bagaimana pun keadaannya olahraga ataupun bentuk lainnya sudah tidak jadi pertanyaan, karena itu sudah “kewajiban”.

Bagiku aktivitasnya sudah sejajar dengan makan, minum atu mandi yang dilakukan setiap hari.

=====

Sore kemarin, mungkin karena gumpalan endorfin yang terkumpul pada diri ini yang membuat aktivitas jogging itu sudah seperti membaca buku kesukaan atau nonton film saja. Seperti ada hasrat yang merongrong dalam diri agar segera berlari saat itu juga. Walaupun masih noob dalam hal jogging, aku bisa menyelesaikan satu putaran jogging satu komplek tanpa berhenti. Sungguh kenikmatan yang haqiqi bagiku.

Sebenarnya kalau ditarik lebih jauh keinginan yang tiba-tiba merasuk dalam diriku itu tidak ada hubungannya dengan niat, itu lebih kepada hasrat “ingin saja” dan ini bisa diperoleh dari niat apapun. Namun lagi-lagi pada akhirnya yang menjadi pembeda dari itu semua adalah niat.

Jogging karena hasrat memang menyenangkan namun jika niatnya kurang tepat pun akan menjadi petaka. Contohnya lari terlalu sering karena sebegitu menyenangkannya berjogging mungkin terlihat baik namun sejatinya ini merusak fisik juga, karena tubuh juga butuh ‘diistirahatkan’. Sesuatu yang berlebihan tidak baik

Dan tendensi terbaik menurutku adalah bertanggung jawab, karena dari situ kita belajar secara bijak kapan harus berhenti dan kapan harus dilanjutkan walaupun semenyenangkan atau setidakmenyenangkan apapun..

Ini pendapatku aja.

Terima kasih

nb: eh dulu aku juga punya niatan agar punya badan atletis deng agar dikagumi banyak orang terkhusus wanita. Jika diinget-inget lagi, memalukan sekali diri ini. Namanya juga kehidupan.

nb2: ini pendapat pribadi yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s