Ipusnas – Sebuah Review Singkat

Berbekal dalih akan sangat mahal harganya jika aku selalu beli buku. Maka kuputuskan bagaimana caranya mengirit pengeluaran untuk aktivitas membaca buku tanpa harus membelinya. Tidak adanya uang bukan berarti membuat aktivitas berliterasi mandeg kan?. Jadi harus cari jalan buat mengatasi ini semua.

Sebenarnya perihal literasi juga enggak melulu soal buku. Banyak lainnya seperti literasi online macam artikel, berita, portal jurnalisme warga, jurnal, film dan banyak lainnya. Namun buku memiliki kekuatan yang lebih luas dan kaku. Yang mana 1 keseluruhan isi berkaitan dan membentuk kedalaman informasi bagi yang membacanya.

Maka dari itu buku masih sangat vital untuk urusan berliterasi. Jadi mau bagaimanapun keadaan kantong yang “kering” jangan sampai membuat diriku mengurangi aksi berliterasi mesra dengannya. Maka kumencari beberapa cara yang terpikirkan. Nah berikut ini beberapanya:

  1. Pinjem ke temen yang suka baca buku
  2. Pinjem ke Perpustakaan daerah setempat
  3. Pinjem ke Perpustakaan Online

Dari ketiga opsi diatas yang paling praktis dan tepat sasaran ditengah kesibukan yang membelenggu adalah meminjam buku via perpustakaan online. Dan perpustakaan online itu bernama Ipusnas.

Ipusnas adalah sebuah aplikasi keluaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mirip dengan platform Play books, Apple Books atau Kindle namun dalam versi peminjaman buku digital (ebook) secara gratis, alias tidak perlu beli. Namanya aplikasi, Ipusnas hanya bisa berjalan ketika menginstal aplikasinya jadi tidak bisa langsung dibuka via web (seperti Play Books contohnya). Aplikasinya sendiri bisa diinstal pada sistem operasi Android, Apple dan Windows. Kamu bisa download melalui Play Store, App Store atau bisa langsung ke web resminya disini: https://ipusnas.id/

Sumber: https://ipusnas.id/

Seperti Menjentikkan Jari 🤞

Setelah mendownload diharuskan untuk mendaftar terlebih dahulu sebelum meminjam. Pendaftarannya mudah banget dan cuman butuh waktu kurang dari 2 menit, bisa pakai facebook atau email. Dalam hal ini ku membuat akun menggunakan email.

Setelah mendaftar baru bisa pinjem.

Proses meminjamnya juga tidak ribet. Cukup mengetikkan buku apa yang ingin dicari > klik Dapatkan Buku Ini (download) > dan setelah itu bisa dibaca. Yah semudah menjentikkan jari gitu sih. Tapi emang bener simpel banget buat perkara minjem-minjem disini. Paling tidak butuhin waktu kurang dari 5 menit (termasuk daftar) langsung bisa baca buku yang diinginkan.

Aku sendiri sempet heran, kenapa sebegitu mudahnya untuk mendaftar dan meminjam buku secara online. Padahal diawal kupikir bakal ribet harus nginputin data pribadi, seperti data KTP; alamat domisili; pekerjaan terkini; riwayat pendidikan dan macam sebagainya. Soalnya ketika dulu aku mendaftar keanggotaan perpustakaan nasional harus melewati “rintangan” semacam itu. Namun nyatanya tidak, via aplikasi malah kebalikkannya.

Namun……

Dibalik kemudahan mendaftar dan meminjam buku secara online, aplikasi ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang barangkali palinglah vital yaitu dari segi user experience penggunaan aplikasi.


User Experience🧐

Dibawah ini adalah pendapatku tentang pengalaman ketika membaca buku dalam aplikasi. Btw, ku menggunakan Iphone untuk membacanya.

Pertama: Dari segi tampilan ketika membaca

Dari segi tampilan sebenarnya kusuka, hanya terdapat beberapa menu yang tidak memboroskan mata dan lebih berfokus pada aksi membaca itu sendiri. Namun maaf, ketika berada pada mode reading aku mendapati kekecewaan yang mana ukuran huruf pada bacaan tidak bisa diperbesar atau diperkecil, alias sudah ukuran default. Ukuran layar handphoneku juga terbilang sedang tidak kecil-kecil amat yaitu 4,7 inci.

Ini benar-benar mengganggu karena ukuran huruf yang disediakan sendiri memangkas lebih dari 20% ukuran layar handphone. Jadi ketika membaca aku harus memicingkan mata teramat sipit, iyah kebaca sih cuman jadi males aja. Apalagi buat pengguna lain yang mengalami problem mata minus, sungguh pastilah menggangu.

Ini berbeda dengan aplikasi reader lain seperti Playbook dan Kindle. Walaupun ebook berbayar user experience ketika reading jauh lebih baik, seperti dapat menyesuaikan ukuran huruf yang diinginkan. Bagi banyak pembaca tentu ini akan sangat membantu. Dibawah ini adalah hasil screenshot untuk ketiga platform.

Keterangan gambar = Kiri: Play book; Tengah: Kindle; kanan: Ipusnas.

Kedua: Tidak praktis

Walaupun pendaftaran dan peminjaman buku begitu mudah, namun tidak dalam hal kepraktisan aplikasi ini untuk digunakan. Rasanya bikin kesel saja. Kudapati ketika aku membuka aplikasi dalam keadaan tanpa internet aku dimintanya untuk login kembali. Kupikir ketika sudah meminjam buku secara online aku bisa menikmati aksi membaca tanpa koneksi internet, namun tidak, aplikasi ini harus terhubung dengan internet ketika membuka. Walaupun memang ketika sudah berada dalam kondisi reading, internet bisa dimatikan, namun tidak praktis saja.

Selain itu setelah buku dipinjam (download), beberapa kali kutemukan bahwa aku harus mendownload ulang buku yang telah dipinjam. Ini sangat merepotkan, kupikir 1 kali download aja sudah cukup untuk 1 kali peminjaman, namun tidak, beberapa kali ku diminta untuk mendownload ulang.

Tentu ini membuat pengalaman dalam membaca buku jadi sangat terganggu. Dimana seharusnya aku jadi nyaman dan praktis dalam membaca, ini malah kebalikannya. Pengguna seperti diminta melewati hal-hal semacam itu dulu baru bisa baca.

Apakah memang niatannya demikian?.

Ketiga: Usia peminjaman buku yang terlalu pendek

3 hari untuk menghabiskan 1 buku?. Mungkin beberapa orang bisa dengan mudah menghabiskannya. Namun bagiku tidak, butuh waktu 1-2 minggu untuk membaca secara full isi buku. Dan memang standart perpustakaan umum (offline) juga 2 minggu seringnya. Namun kenapa ini hanya dikasih 3 hari saja?.

Ku berfikir barangkali sudah ada perjanjian antara pihak perpustakaan, penulis dan penerbit dalam hal ini. Tentu ketika buku dipinjam kemungkinan buku dibeli secara utuh jadi lebih kecil yang tentunya akan merugikan dari segi profit oleh penerbit atau penulis.

Namun bisa jadi tebakkanku salah. Sebagai penerbit dan penulis tentu sudah mengerti bahwa tingkat literasi dinegeri ini rendah, maka lebih baik membantu meningkatkan tingkat literasi membaca buku dari pada terbelenggu soal profit. Karena kuyakin ketika tingkat literasi meningkat tingkat kesadaran untuk memberi penghargaan kepada penerbit dan penulis juga muncul yaitu membeli bukunya secara langsung. Btw, aku tetap membeli buku kok, namun tentu disesuaikan dengan kondisi isi dompet hehe.

Keempat: Koleksi

Sebenarnya untuk ukuranku banyak buku menarik yang bisa dibaca dari penulis yang kurang dikenal hingga peraih nobel sekalipun. Jadi tak ada soal, walaupun beberapa buku dari penulis yang kukenal tidak ada seperti bukunya Pramoedya, Fiersa Besari dan lainnya. Kupikir harus ada kolom saran dalam aplikasi ini agar pengguna dapat mereferensikan buku agar dapat dibaca nantinya.


Akhir Kata 🎈

Ku juga menyadari sebenarnya, tak sepatutnya aku menuntut lebih jauh dari aplikasi gratis ini. Secara keseluruhan menimbang kelebihan dan kekurangannya, ku tetep mencoba dan berharap kedepan ada pengembangan yang lebih baik lagi.

Oh iya tips dari aku ketika membaca buku di Ipusnas

  • Pinjamlah 1 buku saja dalam 1 waktu karena batas peminjaman buku yang begitu pendek
  • Jika meminjam buku non fiksi dalam hal ini buku teori, jurnal atau karya ilmiah bisa dilihat secara keseluruhan isi lalu setelah itu bisa fokus membaca pada tema yang diinginkan saja.
  • Jangan terjebak waktu peminjaman yang pendek yang membuat diri terburu-buru dalam membacanya. Karena membaca dilayar dengan cahaya biru terlalu lama akan membuat mata jadi lelah dan membuat kerentanan mata jadi minus. Btw, sekarang ini aku sudah meminjam 3 kali untuk buku yang sama. Jadi sekali meminjam tidaklah cukup untuk 1 kali penyelesaian (ini bagiku yah)
  • Bacalah diwaktu senggang yang panjang seperti hari libur contohnya agar dapat menyelesaikan cukup banyak halaman buku dalam 1 waktu. Tentu disesuaikan masing-masing pembaca berapa lama waktunya. Itu akan lebih baik jika dibandingkan membaca setiap hari dengan rentang waktu yang pendek, karena usia peminjaman yang begitu pendek.
  • Rekomendasikan kepada yang lain untuk mencoba membaca via Ipusnas. Sekedar rekomendasi saja toh enggak ada salahnya juga. Bayangkan ketika orang yang direkomendasikan suka dan setelah itu makin rajin baca buku. Ada kebanggaan sendiri setelah itu kan?.

Tentu ini adalah salah satu opsi untuk membaca buku. Poin pentingnya adalah tetap membaca buku itu sendiri, mau dimanapun medianya. Artikel ini dibuat sebagai gambaran pengalaman membaca buku pinjaman via aplikasi Ipusnas. Aku tak ingin menjabarkan kelebihan saja namun tetap dirangkai dengan sisi kekurangannya.

Kesimpulanku mengenai aplikasi: Menurutku aplikasi ini dibuat untuk pembaca yang benar-benar niat bukan hanya sekedar ingin baca. Karena harus kuat nahan sebel dari sisi kekurangannya. Terima sajalah, toh bisa baca buku juga kan.

Saat artikel ini dibuat aku sedang membaca buku novel berjudul Harimau! Harimau! karangan Mochtar Lubis. Jadi sok atuh yang lain bisa dicoba, barangkali bisa jadi referensi kamu membaca buku disituasi dompet yang lagi tipis (kali hehe).

Jadi masih ada alasan untuk tidak baca buku?

Terima kasih telah membaca. Salam Literasi!

–Adisriyadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s