Mentolerir Kegagalan

Aku selalu merasa tertekan jika harus dipaksa menulis 1 tulisan per hari. Kadang sih otakku lancar dalam menulis hari itu juga namun kadang sebaliknya otak jadi buntu bukan main yang akhirnya aksi menulis menjadi amat tidak menyenangkan. Tidak jarang bukannya output tulisan sesuai yang diharapkan malah amburadul setengah mati.

Dalam daftar komitmen yang kubuat secara pribadi kutulis akan membuat 1 tulisan per hari mau tidak mau. Namun kenyataannya masih bolong-bolonglah diriku dalam menjalani komitmen tersebut. Masalah yang menjadi hipotesisku kenapa begitu ialah begitu mudahnya diri menunda-nunda untuk menulis karena takut jelek, takut tidak bagus, takut tidak ngena dan sebagainya. Membayangkan 1 tulisan yang harus kubuat dalam waktu 1 hari itu harus bagus dan sempurna. Aku seperti menjadi seorang malaikat yang harus dituntut seperti definisinya.

Dalam proses menulis pengakuan ini terceletuk dalam hati, kenapa standart targetnya enggak diubah? kenapa harus produknya yang ditarget?, kenapa tidak waktunya saja yang ditarget?. Kalau standart targetnya adalah waktu, mau bagus atau tidak hasil tulisan yang dibuat tak menjadi soal karena waktu akan menuju ke titik terakhir dan berakhir, yang pada akhirnya aku sudah bisa dikatakan menyelesaikan target menulis itu sendiri.

Poin penting sebenarnya bukan menghabiskan waktunya namun menikmati aksi menulis yang tak terbebani oleh hasil 1 tulisan perhari. Disitu aku bakal menekan banyak hal terkhusus pikiran-pikiran gagal dan mentolerir itu semua dalam batasan waktu yang kubuat.

Kupikir ini layak dicoba, nanti ketika menilik daftar komitmen akan kuubah itu. Sejauh ini kulihat lebih banyak manfaat jika mentarget secara waktu dibanding mentarget berdasarkan output produk tulisannya. Walaupun tentu ini hanya praduga diawal saja.

Toh tak ada salahnya juga kan dicoba?

Barangkali pradugaku salah atau pradugaku benar. Akan menguntungkan jika benar namun jikapun salah aku bisa beralih ke rencana lain. Namanya hidup seseorang harus berani mencoba rencana-rencana yang belum pasti hasilnya.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, blog ini hanya permulaan. Isinya masih amburadul dan tak terfokus. Maafkan jika ada kesalahan.

Terima kasih telah membaca, semoga makin produktif kedepan

-Adisriyadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s