Membuka Kepercayaan Tidaklah Semudah Dulu

Ingin kuberbicara banyak hal dengannya tapi pikiran yang mengaku “paling tahu” dalam diriku memaksa untuk bungkam. Akhirnya aku urungkan niat itu. Padahal ia baik walaupun memang sih aku dan dia belum dekat-dekat amat. Tapi intuisi mengatakan dia adalah pribadi koperatif yang dengan tulus dapat menerima semua apa yang teman bicarakan. Intuisi seringkali menggambarkan banyak hal bahkan bisa jadi itu adalah pertanda yang benar.

Akhir-akhir ini memang kuakui tingkat kepercayaanku terhadap orang lain jadi makin minim. Aku ragu jika dibilang banyak orang dalam lingkaran pertemananku yang membohongi, tidak jujur atau menusuk punggungku dari belakang. Yah walaupun kenyatanyaannya bisa jadi benar namun aku tak mempunyai concern terhadap itu. Aku lebih kepada punya pemikiran apakah keterbukaanku kepada orang lain bisa dimaknai secara tulus yang sebenar-benarnya dan bukannya hanya sekedar basa-basi etika masa kini atau lebih parahnya lagi adanya muatan “politis” dibalik itu. Jadi soal kebohongan, ketidakjujuran atau penghianatan dengan menusuk dari belakang itu bukan masalahku atau setidaknya masih belum.

Tadi siang selepas balik dari minimarket seorang bocah kecil menyapaku dengan cengengesan tanpa rona takut sama sekali dengan orang yang belum dikenal. Sontak aku membalas sapaannya dengan kaget namun tetap ketus seperti ungkapan “cukup, aku belum kenal kamu. Jadi segini saja senyumnya”. Dibalik aksi spontan anak itu barangkali ia tak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya atau apa yang bisa didapatkan dengan menyapa orang tidak dikenal. Ia hanya ingin menyapa dengan caranya, karena itu yang ingin dilakukan pada saat itu dan situasi itu. Hanya pemikiranku saja entah benar atau tidaknya tak masalah, karena kupikir semua orang juga akan berfikiran sama. Anak kecil selalu spontan mengutarakan maksud secara terbuka dan tulus.

Aku berfikir apakah aku bisa seperti itu. Menjadi seorang anak kecil yang dengan terbukanya percaya kepada orang lain (termasuk orang yang belum dikenal). Yah karena memang membuka kepercayaan diusia dewasa ini sepertinya bukan hal yang mudah lagi. Bukan perkara tidak bisanya namun lebih kepada banyak hal yang perlu dipikirkan seperti apakah orang itu baik atau tidak, tulus atau tidak, ada maksud politis atau tidak, serta indikator lain yang bisa digunakan sebagai upaya diri sendiri mencegah keterbukaan ini “diselewengkan”. Dalam permasalahanku adalah apakah keterbukaanku akan dimaknai sebenar-benarnya secara tulus?.

Aku berfikir sejenak barangkali memang sudah tidak bisa lagi seperti anak kecil. Dan itu adalah hal yang bisa dibilang positif – menurutku – karena bagiku tidak semua hal bisa dibuka dimuka umum, hanya orang tertentu sajalah yang bisa mendapatkannya. Yang jadi permasalahannya adalah ketika seseorang sudah kadung terjebak pada ketidakpercayaan akut terhadap banyak orang yang pada akhirnya membutakan mata mau baik, tulus dan jujur sekalipun diri sendiri akan sulit membuka kepercayaan.

Istilahnya selalu atau sering menutup mata dan telinga walaupun belum dilihat dan didengar sama sekali.

Apakah itu merugikan?. Tergantung apakah ia manusia apa bukan. JIka seseorang itu manusia kebutuhan mempercayai dan dipercayai tentu adalah hal yang mau tidak mau terpenuhi jika tidak “mekanisme” hidup seseorang bisa jadi kacau.

Siapa sih disini yang ingin jadi orang yang dipercayai? tentu semuanya ingin kan. Namun karena banyaknya pengalaman hidup masa kini yang membuat seseorang pilah pilih dalam membuka “kran” kepercayaan, semua itu jadi tidak mudah lagi. Seolah ada seleksi secara alami dalam diri seseorang apakah si A, si B, si C dan seterusnya layak dibukakan pintu kepercayaan atau tidak.

Aku masih belum mendapatkan jawaban yang tepat untuk ini. Kupikir cara terbaik untuk bisa terbuka kepada orang lain adalah dengan perlahan-lahan mengenal dan melihat apakah ia baik atau sebaliknya. Proses memutuskan ini juga bukan seperti mendeklarasikan suatu hal melainkan lebih sering berjalan secara alami tanpa campur tangan keputusan itu sendiri. Tiba-tiba deket aja terus percaya secara intuisi.

Jadi sampai mana keterbukaanmu terhadap orang-orang sekitar. Kepada orang terdekat seperti bapak dan ibu, saudara-saudara, teman dekat, pacar dan lainnya?

Akhirnya kuketik sebuah pesan WA pembuka kepadanya. Hanya berbekal intuisi diawal kuharap ini akan berjalan dengan lancar dan tentu saja seleksi alam yang akan menjawabnya.

-Adisriyadi

19 Maret 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s